HAKIKAT DZIKIR DAN URGENSINYA
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Epistimologi Dzikrulloh
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Dosen Pengampu : Maman Usman, M.Kom.I
Disusun Oleh Kelompok 1 :
1.
Musawahi Ega Nugraha
2.
Rahman Abdurrahman
3.
Nunu Nugraha
4. Ade Solihat
SEKOLAH
TINGGI ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Komplek
Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dsn. Ciceuri RT 10 / RW 05, Ds. Ciomas, Kec.
Panjalu, Kab. Ciamis, Jawa Barat Indonesia
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Tuhan
Yang Maha Esa, kiranya pantaslah kami memanjatkan puji syukur atas segala
nikmat yang telah diberikan kepada penulis, baik kesempatan maupun kesehatan,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Salam dan salawat selalu
tercurah kepada junjungan kita baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa
manusia dari alam jahiliyah menuju alam yang berilmu seperti sekarang ini.
Makalah yang telah kami buat berjudul Hakikat Dzikir dan Urgensinya.
Makalah yang telah kami buat berjudul Hakikat Dzikir dan Urgensinya.
Makalah ini dapat hadir seperti
sekarang ini tak lepas dari bantuan banyak pihak. Untuk itu sudah
sepantasnyalah kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besar buat
mereka yang telah berjasa membantu penulis selama proses pembuatan makalah ini
dari awal hingga akhir.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih ada hal-hal yang belum sempurna dan luput dari perhatian penulis. Baik itu dari bahasa yang digunakan maupun dari teknik penyajiannya. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan dan kerendahan hati, kami membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca sekalian demi perbaikan makalah ini kedepannya.
Akhirnya, besar harapan penulis agar kehadiran makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti untuk para pembaca. Dan yang terpenting adalah semoga dapat turut serta memajukan ilmu pengetahuan.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih ada hal-hal yang belum sempurna dan luput dari perhatian penulis. Baik itu dari bahasa yang digunakan maupun dari teknik penyajiannya. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan dan kerendahan hati, kami membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca sekalian demi perbaikan makalah ini kedepannya.
Akhirnya, besar harapan penulis agar kehadiran makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti untuk para pembaca. Dan yang terpenting adalah semoga dapat turut serta memajukan ilmu pengetahuan.
Sirnarasa, 28 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
....................................................................................
2
Daftar
Isi .............................................................................................
3
BAB
I PENDAHULUAN :
A.
Latar
Belakang ........................................................................
4
B.
Rumusan
Masalah ................................................................... 4
C.
Tujuan
Penulisan .....................................................................
4
BAB
II PEMBAHASAN :
A.
Pengertian
Dzikir..................................................................... 5
B.
Hakikat
Dzikir .........................................................................
5
C.
Urgensi
Berdzikir Kepada Alloh ............................................. 8
BAB
III PENUTUP :
A.
Kesimpulan
............................................................................. 10
B.
Saran
.......................................................................................
10
DAFTAR
PUSTAKA .........................................................................
11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia senantiasa dituntut untuk selalu melakukan perubahan dan perbaikan
dalam kehidupannya. Dalam setiap pergantian hari harus ada upaya untuk
memperbaiki diri dan kembali menuju kepada Allah SWT. Proses perbaikan diri ini
membutuhkan sarana untuk membantu kita dalam menjalani perubahan ini.
Selama Alloh masih karuniakan kesempatan untuk hidup, maka selam a itulah
proses menggapai hidayah dan perbaikan diri hendak terus diupayakan.
Semangat perbaikan diri
harus selalu menyala dalam jiwa muslim. Karena Alloh SWT tidak pernah menutup
pintu taubat, sebelum nyawa seseorang sampai di tenggorokan. Ampunan Alloh SWT
jauh lebih luas dari dosa hamba-hambaNya
Ada dua hal penting yang saya yakini bahwa ia adalah wasilah yang penting dalam
proses tarbiyyah diri. Namun, kedua hal ini seringkali kita abaikan dan tidak
kita perhatikan, yaitu Dzikir dan Istighfar. Dalam kesempatan kali ini, kita
akan sama-sama merenungkan hakikat dzikir kepada Allah SWT beserta urgensinya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dzikir ?
2. Apakah hakekat dzikir itu ?
3. Bagaimana urgensi dzikir kepada Alloh ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistimologi
Dzikrulloh
2. Mengetahui Hakikat Dzikir
3. Mengetahui urgensi dzikir kepada Alloh
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dzikir
KATA DZIKIR berasal dari
bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan
berbuat baik. Jika kata dzikir dikaitkan dengan Islam, maka memiliki
pengertian:
Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT. Karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya.
Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT. Karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya.
Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh)
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah
diajarkan oleh Rosulullah saw. Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada
orang-tua; berlaku jujur, objektif, dan adil; menghormati yang lebih tua dan
menyayangi yang lebih muda, sekalipun kita tidak mengenalnya dengan baik; serta
mengajak kepada kebaikan, dan melarang terjadinya kemungkaran;
B. Hakikat Dzikir
Yang dimaksud dzikir bukanlah hanya di lisan, akan tetapi dzikir
meliputi hati dan lisan. Dzikir kepada Allah mencakup dzikir dengan menyebut
nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat
dengan membaca Kalam-Nya (Al Qur’an). Hal ini akan menyebabkan seseorang
mengenal dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta memujinya dengan
berbagai pujian. Semua itu tidak akan sempurna tanpa mentauhidkan-Nya. Dzikir
yang sebenarnya harus meliputi seluruh hal tersebut. Perkara ini akan
menyebabkan seorang hamba senantiasa mengingat nikmat dari Allah dan mengingat
kebaikan Allah terhadap makhluk-Nya.
Setiap perilaku, tindakan untuk mengingat Allah
itu juga disebut dzikir. Ada zikir dengan hati, ada dengan
lisan, ada dengan pikiran dan ada dengan perbuatan. Boleh
dzikir dengan berjalan, dengan duduk, dengan bekerja, dengan berbaring, atau
zikir dengan tegak, duduk, dan beberapa cara selama tidak bertentangan dengan
sunah Nabi Muhammad saw.
لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَم حُضُوْرِكَ مَعَ
اللَّهِ فِيْهِ لأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ اَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ
فِى وُجُوْدِ ذِكْرِهِ فَعَسَى اَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ
غَفْلَةٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقَظَةٍ ، وَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ
يَقَظَةٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ، وَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ
حُضُوْرٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُوْرِ وَمَا
ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيْزِ٠
“Jangan engkau tinggalkan dzikir kepada Allah, sebab
lalaimu terhadap Allah tanpa adanya zikir adalah lebih berbahaya daripada
lalaimu kepada Allah dengan masih tertinggal dzikir dihatinya. Mudah-mudahan
Allah mengingat kamu untuk berzikir dari suka melalaikan kepada sadar
melaksanakan zikir. Dari dzikir yang sadar menjadi zikir yang penuh kehadiran hati. Dari zikir dengan hadirnya hati
kepada zikir yang masuk kepada kegaiban. Tidaklah ada kesukaran bagi
Allah tentang hal-hal seperti itu."
Dijelaskan ini dalam surat Ali Imran ayat 191: "Mereka adalah orang-orang yang mengingat Allah, sambil berdiri,
duduk, di waktu berbaring, lalu memikirkan terciptanya langit dan bumi..."
dzikir adalah jalan menuju Allah yang rahman, untuk mendalami wujud-Nya dengan mengingat dan
menyebut sifat-sifat-Nya.
Dzikir dengan bermacam-macam cara,
menghendaki agar zikir itu dilakukan dengan kehendak yang kuat, untuk mencari
kekuatan yang dapa memberi ketenangan bagi manusia. Atau dapat menjadi obat dan
penawar bagi kesejukan hati sanubari. Allah swt menyebut dzikir ini dalam Al
Qur'an: "Ingatlah akan Aku, tentu Aku akan ingi kepadamu, bersyukurlah
padaKu dan jangan kamu ingkar." Allah berfirman:
"Adapunorang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan
dzikrullah, karena dengan dzikrullah itu hati manusia menjadi tenang
tenteram." (QS. Ar Ra'du: 29)
Ingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh
dengan konsentrasi jiwa dan hati, akan membentuk manusia yang tenang, dan hamba
Allah yang istiqamah, dengan hidup yang tertempa, serta banyak
lagi fadilah dzikir yang akan diperoleh dan dirasakan oleh hamba yang suka
berdzikir (mengingat terus menerus). Maqam tertinggi yang diperoleh oleh hamba
yang berdzikir, adalah dzikir yang hidup dengan sendirinyu di dalam dirinya,
yang sudah menjadi satu di sekujur anggota badannya Setiap gerakannya adalah
dzikir, setiap ucapannya adalah dzikir, senyum dan kerdipan mata, naik turunnya
napas adalah dzikir. Antara Allah swt dengan hamba-Nya yang berzikir
tidak ada batasnya, tidak dibatasi waktu, masa, jarak, antara si hamba dengan Allah swt.
Dalam suatu hadis Qudsi, Allah swt
mengingatkan hamba-hamba Nya yang berdzikir: "Aku (Allah), selalu menuruti
sangkaan para hamba terhadap-Ku. Aku (Allah) selalu menyertainya, bila ia ingat
(dzikir) kepada-Ku. Bila ia dzikir dalam hatinya, maka Aku ingat kepadanya
dalam Dzat-Ku. Jika ia dzikir kepada-Ku ditempat ramai,
niscaya Aku akan ingat kepadanya di tempat yang lebih ramai, dan
lebih baik lagi ingatan -Ku kepadanya. Demikian juga, apabila hamba-Ku
mendekati Aku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Bila ia
dekat-dekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan lebih dekat lagi kepadanya satu
depa. jikalau ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang
kepadanya dengan berlari."
Ibnu Abbas ra berakata: "Apabila Allah
swt menetapkan suatu kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, niscaya dibebankan
kepadanya pula agar selalu ingat kepada Allah pada setiap waktu dan ketika apa
pun, seperti diingatkan Allah swt agar selalu ingat kepada Allah terus menerus,
di waktu duduk, berdiri, sedang tiduran, atau di waktu malam dan siang, ketika
berada di darat atau di laut, bepergian atau tinggal di rumah. Demikian juga
oleh orang kaya atau orang miskin, di waktu sehat atau waktu sakit, secara diam-diam atau
terang-terangan, ringkasnya pada segala waktu."
Abu Qasim Al Qusairy
mengingatkan,"Dzikir itu akan meningkatkan martabat iman dan mendekatkan
kepada Allah, lambang kewalian, pelita penerang kalbu, jiwa dari semua amal,
karena tujuannya untuk taqarrub kepada Allah."
Dalam salah satu hadis Qudsi disebutkan, "Aku
(Allah) selalu mengikuti dugaan hamba-Ku terhadap diri-Ku, dan Aku selalu
menyertainya di waktu ia berdzikir."
Dzikir itu berjalan sepanjang masa tanpa
batas waktu atau halangan, sebab ia diperbolehkan pada semua waktu.
C. Urgensi
Berdzikir Kepada Allah
Dzikir adalah sebuah amalan yang paling dibutuhkan oleh hati seorang
mukmin. Ia dapat membantunya untuk merasakan lezatnya iman dan mengantarkannya
dari iman yang hanya tertanam dalam akal menuju iman yang tertancap kuat dalam
hati, sehingga ia akan memancarkan buahnya dalam sikap dan perilaku.
Yang dinamakan dengan
dzikir bukanlah sebatas kalimat yang diucapkan oleh lisan, akan tetapi harus
disertai dengan kesadaran diri akan kebersamaan kita dengan Allah SWT. Boleh
jadi lisan kita berdzikir, akan tetapi hati tetap lalai dari-Nya. Dan bisa juga
lisan ini tidak mengucapkan dzikir, namun hati ini tetap berdzikir dan
menggerakkannya untuk mencari ridha Allah dan cinta-Nya.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidak
hanya terdapat pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sejenisnya saja, akan
tetapi semua amal yang dilandasi pada ketaatan kepada Allah termasuk dalam
kategori dzikir”
Hal tersebut
sebagaimana ditegaskan juga oleh Sa’id bin Jubair ra dan ulama lainnya, yaitu
menghendaki seorang muslim agar senantiasa mengingat Allah SWT. Selama ia
menghadirkan hatinya dalam setiap kondisi, baik dalam berucap dan bersikap,
disertai dengan niat untuk taat dan beribadah kepada-Nya, maka ia termasuk
dalam kategori orang yang sedang berdzikir.
Ini pula yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki-laki
atau wanita.” (QS. al-Ahzaab: 35).
Dan juga firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir
yang banyak. Dan bertasbihlah pada pagi dan petang hari.” (QS.
al-Ahzaab: 41-41).
Hal ini ditegaskan oleh
Ibnu Abbas saat mengomentari ayat tadi, “Maksudnya ialah mereka berdzikir
kepada Allah setiap selesai dari shalatnya, di pagi hari dan petang hari, di
tempat tidurnya, saat ia bangun dari tidurnya, dan setiap kali pergi keluar
dari rumahnya.”
Jika secara lafadz yang dimaksud dengan dzikir adalah ucapan lisan yang
berupa do’a, tasbih, tahmid, dan semacamnya, maka ia juga memiliki bentuk yang
lainnya yaitu berupa sikap dan perilaku dengan cara menjaga adab dalam setiap
kondisi.
Misalnya saja masuk ke
dalam masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, atau
masuk ke kamar mandi dengan kaki kiri kemudian keluar dengan kaki kanan, makan
menggunakan tangan kanan, dan adab-adab yang lain. Banyak yang mengira bahwa
itu hanyalah sebatas kebiasaan saja, padahal hal itu merupakan salah satu cara
untuk menyadarkan hati.
Buah dari selalu ingat kepada Allah terwujud dengan turunnya rahmat Allah.
Ia akan memberikan kekuatan tekad dan keistiqomahan.
Hal ini disebabkan
karena dua hal;
Pertama, Dzikir
merupakan benteng yang melindungi manusia dari godaan dan tipu daya setan.
Kedua, Orang yang
berdzikir kepada Allah dapat menjadikan hati selalu hadir bersama Allah SWT. Ia
akan menjadikannya semakin cinta dan takut kepada-Nya.
Hal ini ditegaskan
dalam sebuah hadits qudsi, dimana Allah SWT berfirman, “Aku adalah teman dekat orang yang selalu mengingatku (berdzikir),
dan aku selalu bersamanya saat ia mengingatku.”
Berdzikir akan memudahkan turunnya ampunan dari Allah. Ia adalah nutrisi
yang dapat memperkuat rasa cinta dan takut kepada Allah. Yang demikian ini akan
menjadikan manusia semakin berkomitmen untuk berada di jalan syariatnya dengan
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ia juga menjadi sebab
datangnya ketenangan dalam hati. Inilah yang selalu dicari-cari oleh seluruh
manusia, bahkan ini adalah perkara yang paling diimpikan oleh manusia, yaitu
ketenangan hidup.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
KATA DZIKIR berasal dari
bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan
berbuat baik.
Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT.
Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan
juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam
semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT.
Yang dimaksud dzikir bukanlah hanya di lisan, akan
tetapi dzikir meliputi hati dan lisan. Dzikir kepada Allah mencakup dzikir
dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan
larangan-Nya, mengingat dengan membaca Kalam-Nya (Al Qur’an).
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung
jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
DAFTAR PUSTAKA
·
http://islamiwiki.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-dan-hakekat-dzikir.html#.VvidZ_mqqkp
