Jumat, 01 April 2016

HAKIKAT DZIKIR DAN URGENSINYA
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Epistimologi Dzikrulloh
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Dosen Pengampu : Maman Usman, M.Kom.I






Disusun Oleh Kelompok 1 :
1.      Musawahi Ega Nugraha
2.      Rahman Abdurrahman
3.      Nunu Nugraha
4.  Ade Solihat
  
SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Komplek Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dsn. Ciceuri RT 10 / RW 05, Ds. Ciomas, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis, Jawa Barat Indonesia



KATA PENGANTAR
  
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, kiranya pantaslah kami memanjatkan puji syukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepada penulis, baik kesempatan maupun kesehatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah  ini dengan baik. Salam dan salawat selalu tercurah kepada junjungan kita baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah menuju alam yang berilmu seperti sekarang ini.
            Makalah yang telah kami buat berjudul Hakikat Dzikir dan Urgensinya.
Makalah ini dapat hadir seperti sekarang ini tak lepas dari bantuan banyak pihak. Untuk itu sudah sepantasnyalah kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besar buat mereka yang telah berjasa membantu penulis selama proses pembuatan makalah ini dari awal hingga akhir.
            Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih ada hal-hal yang belum sempurna dan luput dari perhatian penulis. Baik itu dari bahasa yang digunakan maupun dari teknik penyajiannya. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan dan kerendahan hati, kami membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca sekalian demi perbaikan makalah ini kedepannya.
            Akhirnya, besar harapan penulis agar kehadiran makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti untuk para pembaca. Dan yang terpenting adalah semoga dapat turut serta memajukan ilmu pengetahuan.

Sirnarasa, 28 Maret 2016

Penulis





DAFTAR ISI


Kata Pengantar .................................................................................... 2
Daftar Isi ............................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN :
A.    Latar Belakang ........................................................................ 4
B.     Rumusan Masalah ................................................................... 4
C.     Tujuan Penulisan ..................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN :
A.    Pengertian Dzikir..................................................................... 5
B.     Hakikat Dzikir ......................................................................... 5
C.     Urgensi Berdzikir Kepada Alloh ............................................. 8
BAB III PENUTUP :
A.    Kesimpulan ............................................................................. 10
B.     Saran ....................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 11





BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Manusia senantiasa dituntut untuk selalu melakukan perubahan dan perbaikan dalam kehidupannya. Dalam setiap pergantian hari harus ada upaya untuk memperbaiki diri dan kembali menuju kepada Allah SWT. Proses perbaikan diri ini membutuhkan sarana untuk membantu kita dalam menjalani perubahan ini.
Selama Alloh masih karuniakan kesempatan untuk hidup, maka selam a itulah proses menggapai hidayah dan perbaikan diri hendak terus diupayakan.
Semangat perbaikan diri harus selalu menyala dalam jiwa muslim. Karena Alloh SWT tidak pernah menutup pintu taubat, sebelum nyawa seseorang sampai di tenggorokan. Ampunan Alloh SWT jauh lebih luas dari dosa hamba-hambaNya
Ada dua hal penting yang saya yakini bahwa ia adalah wasilah yang penting dalam proses tarbiyyah diri. Namun, kedua hal ini seringkali kita abaikan dan tidak kita perhatikan, yaitu Dzikir dan Istighfar. Dalam kesempatan kali ini, kita akan sama-sama merenungkan hakikat dzikir kepada Allah SWT beserta urgensinya.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dzikir ?
2.      Apakah hakekat dzikir itu ?
3.      Bagaimana urgensi dzikir kepada Alloh ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistimologi Dzikrulloh
2. Mengetahui Hakikat Dzikir
3. Mengetahui urgensi dzikir kepada Alloh




BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Dzikir
KATA DZIKIR berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik. Jika kata dzikir dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian:
Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT. Karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya.
Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah saw. Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada orang-tua; berlaku jujur, objektif, dan adil; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sekalipun kita tidak mengenalnya dengan baik; serta mengajak kepada kebaikan, dan melarang terjadinya kemungkaran;

B. Hakikat Dzikir
Yang dimaksud dzikir bukanlah hanya di lisan, akan tetapi dzikir meliputi hati dan lisan. Dzikir kepada Allah mencakup dzikir dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat dengan membaca Kalam-Nya (Al Qur’an). Hal ini akan menyebabkan seseorang mengenal dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta memujinya dengan berbagai pujian. Semua itu tidak akan sempurna tanpa mentauhidkan-Nya. Dzikir yang sebenarnya harus meliputi seluruh hal tersebut. Perkara ini akan menyebabkan seorang hamba senantiasa mengingat nikmat dari Allah dan mengingat kebaikan Allah terhadap makhluk-Nya.
Setiap perilaku, tindakan untuk mengingat Allah itu juga  disebut dzikir. Ada zikir dengan hati, ada dengan lisan, ada dengan pikiran dan ada dengan perbuatan. Boleh dzikir dengan berjalan, dengan duduk, dengan bekerja, dengan berbaring, atau zikir dengan tegak, duduk, dan beberapa cara selama tidak bertentangan dengan sunah Nabi Muhammad saw.

لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَم حُضُوْرِكَ مَعَ اللَّهِ فِيْهِ لأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ اَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِى وُجُوْدِ ذِكْرِهِ فَعَسَى اَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ غَفْلَةٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقَظَةٍ ، وَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ يَقَظَةٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ، وَ مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ اِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُوْرِ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيْزِ٠ 

“Jangan engkau tinggalkan dzikir kepada Allah, sebab lalaimu terhadap Allah tanpa adanya zikir adalah lebih berbahaya daripada lalaimu kepada Allah dengan masih tertinggal dzikir dihatinya. Mudah-mudahan Allah mengingat kamu untuk berzikir dari suka melalaikan kepada sadar melaksanakan zikir. Dari dzikir yang sadar menjadi zikir yang penuh kehadiran hati. Dari zikir dengan hadirnya hati kepada zikir yang masuk kepada kegaiban. Tidaklah ada kesukaran bagi Allah tentang hal-hal seperti itu."
Dijelaskan ini dalam surat Ali Imran ayat 191: "Mereka adalah orang-orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk, di waktu berbaring, lalu memikirkan terciptanya langit dan bumi..." dzikir adalah jalan menuju Allah yang rahman, untuk mendalami wujud-Nya dengan mengingat dan menyebut sifat-sifat-Nya. 
Dzikir dengan bermacam-macam cara, menghendaki agar zikir itu dilakukan dengan kehendak yang kuat, untuk mencari kekuatan yang dapa memberi ketenangan bagi manusia. Atau dapat menjadi obat dan penawar bagi kesejukan hati sanubari. Allah swt menyebut dzikir ini dalam Al Qur'an: "Ingatlah akan Aku, tentu Aku akan ingi kepadamu, bersyukurlah padaKu dan jangan kamu ingkar." Allah berfirman: "Adapunorang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan dzikrullah, karena dengan dzikrullah itu hati manusia menjadi tenang tenteram." (QS. Ar Ra'du: 29) 
Ingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi jiwa dan hati, akan membentuk manusia yang tenang, dan hamba Allah yang istiqamah, dengan hidup yang tertempa, serta banyak lagi fadilah dzikir yang akan diperoleh dan dirasakan oleh hamba yang suka berdzikir (mengingat terus menerus). Maqam tertinggi yang diperoleh oleh hamba yang berdzikir, adalah dzikir yang hidup dengan sendirinyu di dalam dirinya, yang sudah menjadi satu di sekujur anggota badannya Setiap gerakannya adalah dzikir, setiap ucapannya adalah dzikir, senyum dan kerdipan mata, naik turunnya napas adalah dzikir. Antara Allah swt dengan hamba-Nya yang berzikir tidak ada batasnya, tidak dibatasi waktu, masa, jarak, antara si hamba dengan Allah swt. 
Dalam suatu hadis Qudsi, Allah swt mengingatkan hamba-hamba Nya yang berdzikir: "Aku (Allah), selalu menuruti sangkaan para hamba terhadap-Ku. Aku (Allah) selalu menyertainya, bila ia ingat (dzikir) kepada-Ku. Bila ia dzikir dalam hatinya, maka Aku ingat kepadanya dalam Dzat-Ku. Jika ia dzikir kepada-Ku ditempat ramai, niscaya Aku akan ingat kepadanya di tempat yang lebih ramai, dan lebih baik lagi ingatan -Ku kepadanya. Demikian juga, apabila hamba-Ku mendekati Aku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Bila ia dekat-dekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan lebih dekat lagi kepadanya satu depa. jikalau ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari." 
Ibnu Abbas ra berakata: "Apabila Allah swt menetapkan suatu kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, niscaya dibebankan kepadanya pula agar selalu ingat kepada Allah pada setiap waktu dan ketika apa pun, seperti diingatkan Allah swt agar selalu ingat kepada Allah terus menerus, di waktu duduk, berdiri, sedang tiduran, atau di waktu malam dan siang, ketika berada di darat atau di laut, bepergian atau tinggal di rumah. Demikian juga oleh orang kaya atau orang miskin, di waktu sehat atau waktu sakit, secara diam-diam atau terang-terangan, ringkasnya pada segala waktu." 
Abu Qasim Al Qusairy mengingatkan,"Dzikir itu akan meningkatkan martabat iman dan mendekatkan kepada Allah, lambang kewalian, pelita penerang kalbu, jiwa dari semua amal, karena tujuannya untuk taqarrub kepada Allah." 
Dalam salah satu hadis Qudsi disebutkan, "Aku (Allah) selalu mengikuti dugaan hamba-Ku terhadap diri-Ku, dan Aku selalu menyertainya di waktu ia berdzikir." 
Dzikir itu berjalan sepanjang masa tanpa batas waktu atau halangan, sebab ia diperbolehkan pada semua waktu.

C. Urgensi Berdzikir Kepada Allah
Dzikir adalah sebuah amalan yang paling dibutuhkan oleh hati seorang mukmin. Ia dapat membantunya untuk merasakan lezatnya iman dan mengantarkannya dari iman yang hanya tertanam dalam akal menuju iman yang tertancap kuat dalam hati, sehingga ia akan memancarkan buahnya dalam sikap dan perilaku.
Yang dinamakan dengan dzikir bukanlah sebatas kalimat yang diucapkan oleh lisan, akan tetapi harus disertai dengan kesadaran diri akan kebersamaan kita dengan Allah SWT. Boleh jadi lisan kita berdzikir, akan tetapi hati tetap lalai dari-Nya. Dan bisa juga lisan ini tidak mengucapkan dzikir, namun hati ini tetap berdzikir dan menggerakkannya untuk mencari ridha Allah dan cinta-Nya.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidak hanya terdapat pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sejenisnya saja, akan tetapi semua amal yang dilandasi pada ketaatan kepada Allah termasuk dalam kategori dzikir”
Hal tersebut sebagaimana ditegaskan juga oleh Sa’id bin Jubair ra dan ulama lainnya, yaitu menghendaki seorang muslim agar senantiasa mengingat Allah SWT. Selama ia menghadirkan hatinya dalam setiap kondisi, baik dalam berucap dan bersikap, disertai dengan niat untuk taat dan beribadah kepada-Nya, maka ia termasuk dalam kategori orang yang sedang berdzikir.
Ini pula yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki-laki atau wanita.” (QS. al-Ahzaab: 35).
Dan juga firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah pada pagi dan petang hari.” (QS. al-Ahzaab: 41-41).
Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Abbas saat mengomentari ayat tadi, “Maksudnya ialah mereka berdzikir kepada Allah setiap selesai dari shalatnya, di pagi hari dan petang hari, di tempat tidurnya, saat ia bangun dari tidurnya, dan setiap kali pergi keluar dari rumahnya.”
Jika secara lafadz yang dimaksud dengan dzikir adalah ucapan lisan yang berupa do’a, tasbih, tahmid, dan semacamnya, maka ia juga memiliki bentuk yang lainnya yaitu berupa sikap dan perilaku dengan cara menjaga adab dalam setiap kondisi.
Misalnya saja masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, atau masuk ke kamar mandi dengan kaki kiri kemudian keluar dengan kaki kanan, makan menggunakan tangan kanan, dan adab-adab yang lain. Banyak yang mengira bahwa itu hanyalah sebatas kebiasaan saja, padahal hal itu merupakan salah satu cara untuk menyadarkan hati.
Buah dari selalu ingat kepada Allah terwujud dengan turunnya rahmat Allah. Ia akan memberikan kekuatan tekad dan keistiqomahan.
Hal ini disebabkan karena dua hal;
Pertama, Dzikir merupakan benteng yang melindungi manusia dari godaan dan tipu daya setan.
Kedua, Orang yang berdzikir kepada Allah dapat menjadikan hati selalu hadir bersama Allah SWT. Ia akan menjadikannya semakin cinta dan takut kepada-Nya.
Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits qudsi, dimana Allah SWT berfirman, “Aku adalah teman dekat orang yang selalu mengingatku (berdzikir), dan aku selalu bersamanya saat ia mengingatku.”
Berdzikir akan memudahkan turunnya ampunan dari Allah. Ia adalah nutrisi yang dapat memperkuat rasa cinta dan takut kepada Allah. Yang demikian ini akan menjadikan manusia semakin berkomitmen untuk berada di jalan syariatnya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ia juga menjadi sebab datangnya ketenangan dalam hati. Inilah yang selalu dicari-cari oleh seluruh manusia, bahkan ini adalah perkara yang paling diimpikan oleh manusia, yaitu ketenangan hidup.




BAB III
PENUTUP
  

A. Kesimpulan
KATA DZIKIR berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik.
Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT.
Yang dimaksud dzikir bukanlah hanya di lisan, akan tetapi dzikir meliputi hati dan lisan. Dzikir kepada Allah mencakup dzikir dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat dengan membaca Kalam-Nya (Al Qur’an).

B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.

            Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.            





DAFTAR PUSTAKA


·          www.naseemalsham.com
·         http://islamiwiki.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-dan-hakekat-dzikir.html#.VvidZ_mqqkp